Senin, 09 September 2013


Ustadz Muhammad Arifin Ilham: "Nasihat untuk sahabatku para Da'i"

Jum'at, 19 Ramadhan 1434 H / 26 Juli 2013 21:58
(Arrahmah.com) - Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Jazakumullah, al ‘ulama al ahibbaa’ fillah..
Arifin mohon maaf lahir batin.
Ikhwah fillah
Persoalan terbesar bagi umat Islam saat ini yang mengalami kekalahan di semua lini, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, bahkan semua aspek kehidupan karena umat Islam telah meninggalkan Islam, meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah, dan sampai puncaknya adalah krisis ukhuwah. Bukan hanya bagi umat Islam, bahkan bagi ulamanya sendiri.
Ikhwah fillah
Kenapa kita tidak punya haibah? prestise di dunia, di negeri sendiri? Pada lingkungan kita sendiri kita tidak punya haibah, karena kita tidak punya al-quwwah, kekuatan. Kenapa tidak punya al-quwwah? karena tidak punya wahdah, kita sejujurnya belum bersatu, tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta… (Al-Hasyr, 59: 14)
Kesannya saja, retorikanya kita bersatu, sebenarnya kita masih ingin eksis dengan jati diri masing-masing, mazhab masing-masing, pendapat, kelompok, organisasi masing-masing.
Kenapa kita gak punya wahdah? ya… karena kita mengalami yang disebut dengan ukhuwah, saling cinta karena Allah, saling tolong karena Allah, saling menghargai karena Allah, saling mendo’akan karena Allah, saling mendukung karena Allah, saling menutupi aib karena Allah.
Kadang tidak perlu duduk bersama, tapi hati bersama itu jauh lebih utama. Dan tentu jauh lebih afdhal duduk bersama dan hati kita bersama seperti shaf shalat berjama’ah.
Nah… kenapa tidak mengalami kekuatan ukhuwah itu? karena kita mengalami krisis iman. Allah, ridha-Nya, rahmat-Nya, ampunan-Nya, hidayah-Nya, berkah-Nya, Rasul-Nya, akhirat-Nya bukan menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap aktifitas kita.
Maaf, mungkin ini terlalu kasar… Bahasanya agama, tapi hatinya dunia,
…وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ…
(Ali ‘Imran, 3: 152)
Kelumpuhan terjadi bagi umat Islam dan terutama para juru dakwah adalah karena mereka lebih melihat ghanimah ketimbang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ikhwah
Kalau Allah dan Rasul dan akhirat menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap harakah dakwah kita, maka kita akan mengedepankan, mengutamakan dakwah, itu yang menjadi skala prioritas, main goal, dalam semua aktifitas kita, dakwah, dakwah, dakwah, tanpa diundangpun dakwah. Kita menunggu undangan, baru dakwah.
Ulama yang terbaik itu ulama air hujan, yang menghujani siapa pun, minimal ulama mata air yang orang datang rindu kepadanya. Jangan jadi air pam, air pam itu kalau gak diundang, gak keluar dia, kalau gak dibayar gak keluar dia, gak tsiqah dalam dakwah, memilah milih dalam dakwah, akhirnya retorika-retorika saja, intinya dia mencari duit.
Ini ngamen ya ikhwah, atau menjadi juru dakwah air comberan, munafik, dia berbuat maksiat.
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
(Ash-Shaff, 61: 3)
Nah… dakwah kita utamakan, kita berkumpul karena kita mengutamakan dakwah, kita bisa bersama karena mengutamakan dakwah. Jadi benang tasbih walaupun bijiannya warna warni, kalau benangnya adalah dakwah, kita akan bisa bersama ya ikhwah.
Islam bisa berkembang karena dakwah, Rasul menyebarkan dakwah, lalu dilanjutkan para sahabat. Sahabat wafat, dilanjutkan tabi’ut tabiin, lalu salafus shalih. Dan kita bisa begini pun karena dakwah, maka dakwahlah utamakan.
Dimulai dakwah pada diri sendiri, fardiyahahliyah, keluarga kita, lalu sahabat-sahabat kita, lalu khususiah orang-orang penting, lalu ijtima’iyahtablighta’lim, kemudian ‘umumiyah, siapapun didakwahi tanpa merasa paling suci.
Kemudian kalau dakwah yang menjadi prioritas, maka yang kedua adalah ukhuwah. Nah… buahnya dari orientasi dakwah itu ukhuwah. Banyak kita berbeda paham dengan kawan-kawan.
Misalnya Arifin, ada yang membid’ahkan zikir, Arifin sayang kepada kawan-kawan yang membid’ahkan zikir. Tidak ada masalah, tidak penting perbedaan itu, yang penting ukhuwahnya, yang penting dakwahnya.
Hanya karena perbedaan qunut… Ndak penting perbedaan itu, yang penting dakwahnya, ukhuwahnya, ndak penting zikir berjama’ah itu, yang penting ummat itu bertaubat dan sebagainya, itu yang penting.
Jadi hal-hal yang kecil yang masih persoalan furu’iyah bukan ushuliyah, kecuali yang sudah difatwakan jelas, bayanclear, oleh Majelis Ulama Indonesia. Ada yang kita bersama, ada yang tidak bisa kita bersama.
Kemudian yang ketiga.. kalau sudah dakwah yang menjadi prioritas maka ukhuwah. Kalau “iyyaka na’budu wa iyyaka nast’ain” kalau Allah menjadi tujuan kita “na’budu”, kami beribadah bersama, kami mohon pertolongan kepada Allah, kami.. bukan aku.. kami… ‘aku’, ‘kamu’.. lebur menjadi ‘kami’. “shaffan ka annahum bunyaanun marshush” (Ash-Shaff, 61: 4).
Nah, kemudian yang ketiga: maslahah. Kalau sudah ukhuwah, maka ke-maslahah-nya yang dikedepankan. Maslahahnya apa?
Kita di samping masjid Az-Zikra ada mushalla yang berbeda, yang mereka tidak sependapat dengan speaker (aspek) anti-speaker. Mushallanya hancur, bocor, kita bangunkan. Subhanallah… gak ada masalah speaker nggak speaker, maslahahnya untuk ummat biar bisa shalat di mushalla itu. Ya… Allah… ini kemaslahahan yang harus dikedepankan setelah ukhuwah dan prioritas dakwah.
Maka Arifin bahagia sekali, walaupun keadaan hanya bisa melewati ini, tapi Arifin menyayangi semua, ayah, ikhwah fillah, kawan-kawan, juru-juru dakwah.
Ini saatnya bukan lagi retorika-retorikaan, bukan main-main lagi dakwah, bukan lagi eksis-eksis sendirian lagi, ndak perlu lagilah dengan ge-er dengan pujian, ndak perlu lagi sakit hati dengan hinaan.
Saatnya kita menjadi teladan bagi ummat, jadi mata air, jadi cahaya, apa yang di hati itu yang difikirkan, apa yang difikirkan itu yang diucapkan, apa yang diucapkan itu diamalkan, istiqamah, tsiqah, lahir batin ta’at kepada Allah jalla jalaluhu, figur teladan bagi ummat, tidak main-main, tidak lagi menjual-jual, main-main kata, penuh dengan gaya-gaya.
Tidak perlu lagi takut dengan caci maki, hinaan, gosip. Dakwah liyuhiqqal haqqa wayubthilal bathila walau karihal mujrimun… (Al-Anfaal, 8: 8). Keniscayaan akan dicaci maki oleh orang mujrimun itu.
Fitnah itu memang menyakitkan, kotoran, tapi bagi orang beriman dia bisa olah menjadi pupuk yang menyenangkan, pupuk yang menyuburkan keimanannya.
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
(Al Furqan, 25: 63)
Ketahuilah ya ikhwah, yang paling pantas berdakwah itu siapa? Hamba Allah yang istiqamah, yang tidak main-main dengan kata-katanya, bukannya surat Fushshilat (menerangkan),
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا…
(Fushshilat, 41: 30)
Lihat setelah itu,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
(Fushshilat, 41: 33)
Mereka yang istiqamah lalu mereka berdakwah,
Ikhwah, al lughah al madzuqah, bahasa itu rasa, ummat itu bisa merasakan mana main-main kata, mana yang serius dalam berdakwah, mana yang istiqamah, mana yang dalam setiap kata-katanya yang benar-benar tulus mencintai ummat.
Maaf ikhwah, kalau Arifin menyampaikan ini. Inilah keadaan sekarang, mudah-mudahan Arifin dan semua ikhwah, Allah bersamakan dalam ridha-Nya, dalam rahmat-Nya, dalam ampunan-Nya, dan hidayah-Nya, dalam berkah-Nya, dalam harakah dakwah-Nya. Kita bersama walaupun tidak harus duduk kita bersama, suatu saat kita duduk bersama lalu kita bersama-sama.
Puncak perjuangan kita adalah tegaknya syari’at Allah di negeri yang kita cintai ini dan tegaknya khilafah Islamiyah.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتْوبُ إِلَيْكَ
Banyak salah Arifin, uhibbukum fillah.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
(Ukasyah/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/ustadz-muhammad-arifin-ilham-nasihat-untuk-sahabatku-para-dai.html#sthash.tU1aLwlq.dpuf

Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita

Ahad, 20 Ramadhan 1434 H / 28 Juli 2013 17:30
Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita
Ilustrasi
(Arrahmah.com) – Siapa sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i, demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/ironi-iran-anti-zionis-mesra-dengan-yahudi-sementara-muslim-menderita.html#sthash.ihfm4Jw2.dpuf

Dakwah Keluarga

February 16, 2013  //  Hikmah  //  No comments
ring

Ketika seseorang belum menikah, maka keluarganya adalah orang tua dan saudara-saudaranya, sehingga keluarga inilah yang seharusnya mendapatkan prioritas untuk didakwahi, tanpa menelantarkan kewajiban berdakwah kepada yang lain. Pemahaman medan dakwah dan kedekatan dengan objek dakwah sangatlah diperlukan dalam berdakwah, sehingga cukup tepatlah jika anggota keluarga menjadi dai bagi keluarga itu sendiri.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah  shollallahu alaihi wasallam. bersabda, “Tegakkan aturan-aturan Allah walaupun kepada keluarga dekat atau kepada orang lain. Jangan hiraukan celaan orang lain dalam menjalankan hukum-hukum Allah.”
Ketika kita mengingat kembali pada periode awal dakwah ini, akan terlihat jelas betapa pentingnya dakwah kepada keluarga. Bibit-bibit pertama pada periode sirriyah (rahasia) terdapat dalam rumah Nabi  shollallahu alaihi wasallam. Orang-orang yang pertama kali masuk Islam setelah Rasulullah  shollallahu alaihi wasallam. adalah istrinya, Khadijah; mantan budaknya, Zaid bin Haritsah; serta anak pamannya, Ali bin Abi Thalib; dan juga anak-anak perempuan beliau. Pada periode jahiriyah (terang-terangan), Nabi  shollallahu alaihi wasallam. mengajarkan dakwah kepada keluarga dekat yaitu Bani Hasyim  dan Bani Muthalib.
Sasaran Dakwah Keluarga
1. Mengembalikan keluarga ke dalam pangkuan Islam yang benar
Kondisi keluarga yang Islami dapat mempengaruhi ketenangan sang dai yang tentunya akan berpengaruh juga terhadap langkah-langkah dakwah yang dijalankan. Dukungan dan peran serta keluarga di dalam dakwah pun sangat penting dan berarti. Hal ini bisa kita lihat contohnya ketika peristiwa hijrah, bagaimana peran keluarga Abu Bakar yang sangat penting. Mulaio dari Abu Bakar sendiri, putranya Abdullah, putrinya Asma’, dan ‘Aisyah serta pembantunya Amir. Kondisi keislaman keluarga juga sangat berpengaruh terhadap kewibawaan sang dai. Bagi kalangan awam, ketsiqahan mereka terhadap seorang dai seringkali dipengaruhi oleh kondisi keluarga dai tersebut. Ketika keluarga seorang dai kondisinya jauh dari nilai-nilai, tak jarang orang akan mencemooh, “Uruslah keluargamu, tak usah mengurus orang lain!”
2. Menjadi kekuatan pendukung
Kalaupun keluarga tak mengikuti jejak sang dai untuk berislam secara benar, diharapkan mereka mendukung terhadap langkah dai atau paling tidak mereka tidak menhalangi. Kita bisa mengambil ibrah dari sikap Abi Thalib terhadap dakwah Nabi  shollallahu alaihi wasallam. Di sana beliau melindungi Nabi  shollallahu alaihi wasallam. sekalipun tidak mau masuk Islam. Hambatan dan pertentangan dari keluarga dapat memperlambat langkah seorang dai, terutama ketika dai tersebut belum bisa mandiri atau belum menikah. Sering terjadi “kemoloran” proses pernikahan akibat hambatan dari keluarga calon mempelai.
Strategi Dakwah Keluarga
Dakwah kepada keluarga bukanlah sesuatu yang mudah. Ketika seseorang salah langkah, maka akan dapat menimbulkan masalah yang besar, misalnya terputusnya hubungan keluarga, timbulnya fitnah, dsb. sehingga diperlukan langkah-langkah yang hati-hati.
1. Memulai dari diri sendiri
Tidak jarang seorang dai mempunyai latar belakang kehidupan yang jahil. Bukan seuatu hal yang mustahil, ketika dia berhijrah kemudian berdakwah kepada keluarganya maka mereka menanggapinya dengan mengungkit-ungkit masa lalunya. Seorang dai harus berupaya untuk menghapus citra negatif diri yang telah melekat dalam pandangan keluarganya dan harus menunjukkan bahwa dia benar-benar telah berubah serta memberikan pemahaman bahwa langkah-langkah di masa lalunya itu adalah langkah-langkah yang keliru.
Sang dai harus memulai segala sesuatunya dari dirinya sendiri dan senantiasa memberikan keteladanan. Ada suatu nasihat dari Ali bin Abi Thalib ra. yang cukup bermanfaat, “Siapa yang telah mencetuskan dirinya untuk menjadi ikutan dan panduan masyarakat, hendaklah memulai mendidik diri terlebih dahulu sebelum mendidik orang lain dan kalau membina hendaklah terlebih dahulu dengan teladan sebelum ucapan. Membina diri jauh lebih perlu daripada membina orang lain.”
2. Menjalin kedekatan
Sang dai harus berusaha senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan keluarganya, baik dengan komunikasi langsung maupun tidak langsung melalui surat, telepon, sms, dll. Tak jarang, karena kesibukan aktivitas di kampus misalnya, dai menelantarkan hubungan dengan keluarga sehingga hubungan yang terjadi hanyalah berupa hubungan uang semata. Menjalin komunikasi yang rutin, mengirimkan hadiah misalnya buku, memberikan perhatian kepada keluarga, insya Allah dapat menumbuhkan kedekatan dengan keluarga yang akan dapat melahirkan ketsiqahan (kepercayaan/ketentraman) mereka.
3. Menjaga kondisi keluarga
Dakwah kepada keluarga memerlukan pemahaman terhadap kondisi keluarga, permasalahan-permasalahan yang ada, karakter dari masing-masing anggota keluarga dan juga kondisi dari lingkungan sekitar. Pemahaman terhadap seputar keluarga sangat penting untuk menentukan cara dan sarana yang digunakan. Semisal, jika keluarga termasuk golongan yang tidak suka membaca, tentunya memberikan buletin, majalah, atau buku merupakan langkah yang tidak efektif untuk dilakukan. Jika di dalam keluarga ada seorang yang cukup disegani dan sangat berpengaruh, maka orang inilah yang harus dijadikan objek utama, karena dia dapat menjadi motor perubahan dalam keluarga.
4. Sabar
Kesabaran dan keuletan sang dai sangat diperlukan untuk membimbing dan mengarahkan keluarga secara pelan, bertahap, berkesinambungan dan telaten dengan cara dan sarana yang tentunya tidak bisa disamakan dengan berdakwah di luar rumah, misalnya di kampus. Sang dai pun harus membekali diri dengan ilmu dan senantiasa berusaha menambah ilmunya sehingga bisa memberikan hujjah yang jelas dan tidak diremehkan,
Kondisi yang umum terjadi adalah masyarakat menjadikan kiai, ulama atau ustadz-ustadz setempat sebagai panutan mereka yang tak jarang cenderung diikuti apa adanya tanpa sikap kritis dan selektif. Umur dan dasar pendidikan seseorang pun ikut berpengaruh untuk menentukan siapa yang akan diikuti sehingga tak jarang seseorang yang relatif muda dan dengan latar belakang pendidikan umum tidak dipercaya ketika menyampaikan nilai-nilai agama.
Tak jarang seorang dai bisa bersikap sabar, lembut dan telaten dalam menghadapi orang lain, tetapi ketika berhadapan dengan keluarganya sendiri, bersikap keras, tergesa-gesa dan dikotori oleh rasa emosi. Ibn Khaldun mengatakan, “Orang yang dididik dengan kekerasan dan kekejaman akan tumbuh menjadi orang yang kejam, sempit hati, tidak kreatif, mudah jemu,  mudah bohong karena takut akan mendapat hukuman fisik, cenderung terbiasa menipu…”
5. Evaluasi
Evaluasi sangat diperlukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dakwah keluarga yang telah dilakukan serta untuk membenahi cara dan sarana dakwah yang digunakan. Doa merupakan suatu hal yang tidak boleh dilupakan, karena hanya Allahlah yang kuasa memberikan hidayah dan petunjuk kepada seseorang. Manusia hanya bisa berusaha, tetapi Allahlah yang menentukan hasilnya.
Wallahu a’lam.